The Penguins of Madagaskar & The Smurfs!! <3

@2 weeks ago
theantidote:

Bamboo Lantern Festival (by Junigo)
Yokohama, Japan

theantidote:

Bamboo Lantern Festival (by Junigo)

Yokohama, Japan

@3 weeks ago with 8562 notes
voldysgonemouldy7:

Harry Potter and the Philosopher’s Stone
Ah, Harry! &lt;3

voldysgonemouldy7:

Harry Potter and the Philosopher’s Stone

Ah, Harry! <3

(via everythingharrypotter)

@3 weeks ago with 1275 notes
@4 weeks ago

"Kita ini satu bagai magnet. Satu, sama, namun berbeda haluan. Kamu utara, aku selatan, dan kita bisa saja menarik semua besi-besi dan serpihan logam, tapi tetap, aku utara dan kamu selatan. Dua kutub yang berbeda. Mungkin kalau kita terpecah, kita bisa bergabung, menyatu dan berhadapan. Tapi kita tetap, aku utara dan kamu selatan.”
“Bukan,” dipikiranku berbisik menggelitik: “Kutub utara dan selatan itu adalah kau dan ego-mu. Dan aku hanyalah besi rongsokan yang selalu tertarik dengan gaya dan medanmu. Kau adalah magnet, yang selalu menarikku untuk tidak jauh darimu"

@1 month ago
@2 weeks ago with 46172 notes

OH JAKARTA BEGINI YAH!

Petualangan gue kemarin, Jakarta 6 mei 2012 makin membuat gue cinta sama Bogor. Sebelumnya gua mau bagi-bagi ilmu tentang Workshop Creative Writing di kantor Plot Point kemarin, gua memang bukan penulis yang terkenal atau handal, tapi gua cukup bangga diberi gelar “penulis terpilih” sama Plot Point yang pada akhirnya gua berkesempatan menghadiri workshop tersebut. Dari situ gua banyak tahu hal-hal tentang menulis. Gua suka baca, hanya “suka” bukan hobby, makanya gua menulis. Tapi walaupun “hanya” suka gua tetap terus menulis. 

Creative Writing mencakup: Cerpen, novel, skenario, puisi, lirik lagu. Yang gua banget adalah cerita pendek. Gua mentok kalau di suruh cerita panjang-panjang, kalau gua jadi penulis skenario, mungkin cerita gua lebih banyak di bikin FTV nantinya. (Amin aja). Dalam menulis kreatif ada yang namanya, Ide (membentuk tulisan), Tema atau pesan itu udah pasti ya, lalu Struktur tulisan, Penggayaan (Retorika, susastra aristoteles mencakup drama), Diksi (pilihan kata), Produksi, Penerbitan, Penayangan,  Digital Publishing, dan terakhir Plot (susunan peristiwa). Itu semua adalah catatan kecil gua, kalau ada yang salah mohon di maafkan mueheuheuhe.

Mau tahu Naskah “kurang matang” tuh kayak gimana?

1. Tema atau pesan yang tidak matang. (mungkin kurang lama di gorengnya hehe canda)

2. Karakter tidak matang. [terjebak stereotipe] Tips: Kasih diri kamu ke karakter.

3. Setting yang tidak hidup.

4. Plot —> tidak ada “stake

5. Kurang referensi.

6. Terlalu sibuk dengan bunga-bunga kata. (Metafor [pengandaian] ingin menjelaskan), Diksi (pemilihan kata). Nah menurut gua ini bener banget, kadang-kadang dalam tulisan kata-katanya suka di lebih-lebihkan yang akhirnya pembaca nggak ngerti. (“lo mau ngomong apa sih sebenernya?”) kata Mbak Gina dan Om Hikmat Darmawan.

7. Point of view.

Yang jelas penulis itu “jangan cepat puas. Kita di sini hanya potensi, bakat, maka harus di kembangkan. Teruslah menulis!” - Mbak Gina.

Penulis harus rajin membaca. Jujur aja penulis-penulis yang mereka bicarakan seperti Steven King, (yang gua inget cuma satu) kemarin asing buat gua. Yang nggak asing hanya Dewi “Dee” Lestari dan J.K Rowling. Karena gua hanya “suka” bukan hobby membaca. Mungkin kalau sekarang buku apapun bakal gua baca.

Sekian ilmu yang gua dapat dari workshop kemarin. Kembali kepada title yang gua buat. Oh Jakarta… Setelah pulang dari workshop, gua HARUS ke stasiun naik bus kota atau metro mini atau itulah pokoknya. Dan itu….. For the second time. Memang harus di akui Jakarta Keras Bos! Pas pertama kali gua janji nggak mau naik itu lagi. Bukan karena sombong, tapi serem. Seriusan. Mending naik angkot sambung-sambung deh daripada sekali aja tapi naik bus. Keneknya nggak nyelow, tereak-tereak tepat kuping, (di kata kuping gua mic sob) minta ongkos nepok pundak plok! Kenceng aja. Dempet-dempetan sempit, rawan copet, panas. AAAAAKKKKK!! OH JAKARTA BEGINI YAH! Gue cinta Bogor.

@3 weeks ago
The Butterfly Effect.

Menurut gue, ini film keren. Buat lo yang bete bingung mau beli atau pinjem DVD apa, gue rekomendasiin film ini aja. Haha

The Butterfly Effect adalah sebuah film fiksi ilmiah Amerika Serikat pada 2004 yang dibintangi oleh Ashton Kutcher, Amy Smart, Eric Stoltz dan lain-lain. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Eric Bress dan J. Mackye Gruber.
Film ini menggambarkan teori chaos, terutama yang menyangkut cuaca, yang mengusulkan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di Brasil dapat secara teoritis menyebabkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian; lihat efek kupu-kupu. Judul ini juga bersifat metaforis untuk penampilan pemeriksaan otak yang menyerupai kupu-kupu.
Semboyan: &#8220;Ubah satu hal, ubah semuanya&#8221; (&#8220;Change one thing, change everything&#8221;).

Sinopsis

Seniman.SKom, sejak kecil kadang-kadang terserang penyakit hilang ingatan. Dia kadang-kadang tidak ingat apa yang terjadi. Ibunya yang khawatir, karena Evan menunjukkan perilaku yang tidak normal di sekolah, membawanya ke psikiater. Ia khawatir Evan ‘mewarisi’ kegilaan ayahnya (yang dirawat di rumah sakit jiwa). Ternyata tidak ditemukan hal yang aneh pada fisik Evan. Oleh psikiaternya, Evan disuruh menulis buku harian supaya dia tidak melupakan hal-hal yang terjadi. Maka sejak itu Evan mulai menulis buku hariannya. Enam tahun berlalu, Evan yang menginjak remaja bersahabat karib dengan Tommy, Kayleigh (adik Tommy) dan Lenny. Suatu hari mereka bermaksud membuat ‘ledakan’ yang ternyata berakibat fatal bagi persahabatan mereka.
Tujuh tahun kemudian, Evan yang sudah memasuki bangku kuliah, membaca lagi buku harian yang pernah ditulisnya dulu. Selama 7 tahun belakangan ini, ia sudah tidak lagi mengalami hilang ingatan seperti dulu. Kemudian dia melihat masih banyak halaman-halaman kosong di buku hariannya, yang tidak bisa diingat. Maka ia kembali ke kampung halamannya untuk bertanya kepada sahabatnya dulu. Tapi ternyata tidak ada yang mau mengungkit hal tersebut, bahkan Kayleigh lantas bunuh diri setelah bertemu dengannya.
Kemudian Evan pun menyadari bahwa lewat buku hariannya, ia bisa kembali menjadi Evan muda dan mengubah apa yang ia rasa perlu diubah. Hasilnya, ia tidak hanya mengubah hidupnya, tapi juga hidup ketiga sahabatnya, dan ibunya sendiri. Namun apapun yang ia ubah, ternyata bukan kebahagiaan yang diperolehnya. Justru ia semakin frustasi dengan keadaan. Sampai pada puncaknya, ia harus mengambil keputusan, manakah yang benar-benar akan ia ubah, untuk mengembalikan kehidupannya, kekasih, sahabat dan keluarganya.

Persamaan

Beberapa kritik, termasuk dari aktor Ashton Kutcher sendiri menyatakan bahwa film ini adalah kombinasi dari dua film klasik: Back to the Future (mengenai perjalanan waktu) dan Jacob&#8217;s Ladder (pikiran vs. realitas).
Film ini berada di antara beberapa film lain yang sama dan juga terkenal: The Matrix, Fight Club, Donnie Darko, Final Destination, Groundhog Day, American Beauty, Minority Report, dengan manifesto eksistensialisme.

Tapi tetep, buat gue ini paling keren. Kalau bisa terjadi di kehidupan nyata, mungkin bakal banyak orang-orang yang mengubah hidupnya untuk lebih baik, walaupun harus mengambil keputusan mana yang harus benar-benar di ubah. Selamat menonton ya :P

The Butterfly Effect.

Menurut gue, ini film keren. Buat lo yang bete bingung mau beli atau pinjem DVD apa, gue rekomendasiin film ini aja. Haha

The Butterfly Effect adalah sebuah film fiksi ilmiah Amerika Serikat pada 2004 yang dibintangi oleh Ashton Kutcher, Amy Smart, Eric Stoltz dan lain-lain. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Eric Bress dan J. Mackye Gruber.
Film ini menggambarkan teori chaos, terutama yang menyangkut cuaca, yang mengusulkan bahwa kepakan sayap kupu-kupu di Brasil dapat secara teoritis menyebabkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian; lihat efek kupu-kupu. Judul ini juga bersifat metaforis untuk penampilan pemeriksaan otak yang menyerupai kupu-kupu.
Semboyan: “Ubah satu hal, ubah semuanya” (“Change one thing, change everything”).

Sinopsis

Seniman.SKom, sejak kecil kadang-kadang terserang penyakit hilang ingatan. Dia kadang-kadang tidak ingat apa yang terjadi. Ibunya yang khawatir, karena Evan menunjukkan perilaku yang tidak normal di sekolah, membawanya ke psikiater. Ia khawatir Evan ‘mewarisi’ kegilaan ayahnya (yang dirawat di rumah sakit jiwa). Ternyata tidak ditemukan hal yang aneh pada fisik Evan. Oleh psikiaternya, Evan disuruh menulis buku harian supaya dia tidak melupakan hal-hal yang terjadi. Maka sejak itu Evan mulai menulis buku hariannya. Enam tahun berlalu, Evan yang menginjak remaja bersahabat karib dengan Tommy, Kayleigh (adik Tommy) dan Lenny. Suatu hari mereka bermaksud membuat ‘ledakan’ yang ternyata berakibat fatal bagi persahabatan mereka.
Tujuh tahun kemudian, Evan yang sudah memasuki bangku kuliah, membaca lagi buku harian yang pernah ditulisnya dulu. Selama 7 tahun belakangan ini, ia sudah tidak lagi mengalami hilang ingatan seperti dulu. Kemudian dia melihat masih banyak halaman-halaman kosong di buku hariannya, yang tidak bisa diingat. Maka ia kembali ke kampung halamannya untuk bertanya kepada sahabatnya dulu. Tapi ternyata tidak ada yang mau mengungkit hal tersebut, bahkan Kayleigh lantas bunuh diri setelah bertemu dengannya.
Kemudian Evan pun menyadari bahwa lewat buku hariannya, ia bisa kembali menjadi Evan muda dan mengubah apa yang ia rasa perlu diubah. Hasilnya, ia tidak hanya mengubah hidupnya, tapi juga hidup ketiga sahabatnya, dan ibunya sendiri. Namun apapun yang ia ubah, ternyata bukan kebahagiaan yang diperolehnya. Justru ia semakin frustasi dengan keadaan. Sampai pada puncaknya, ia harus mengambil keputusan, manakah yang benar-benar akan ia ubah, untuk mengembalikan kehidupannya, kekasih, sahabat dan keluarganya.

Persamaan

Beberapa kritik, termasuk dari aktor Ashton Kutcher sendiri menyatakan bahwa film ini adalah kombinasi dari dua film klasik: Back to the Future (mengenai perjalanan waktu) dan Jacob’s Ladder (pikiran vs. realitas).
Film ini berada di antara beberapa film lain yang sama dan juga terkenal: The Matrix, Fight Club, Donnie Darko, Final Destination, Groundhog Day, American Beauty, Minority Report, dengan manifesto eksistensialisme.

Tapi tetep, buat gue ini paling keren. Kalau bisa terjadi di kehidupan nyata, mungkin bakal banyak orang-orang yang mengubah hidupnya untuk lebih baik, walaupun harus mengambil keputusan mana yang harus benar-benar di ubah. Selamat menonton ya :P

@4 weeks ago

Aku, secret admirermu.

Cerita lengkapnya, dari yang gue tulis pertama. Selamat membaca! :-)

Aku memanggilnya si kakak berkemeja kotak-kotak. Sudah lama aku memperhatikannya. Dia jarang kelihatan di kampus, tapi Tuhan selalu mengatur untuk mempertemukan kami di suatu tempat. Di setiap sudut kampus, pastinya. Awal aku melihatnya, aku langsung kagum. Seperti remaja lainnya, tidak lain alasannya karena bagiku dia adalah sosok yang tampan. Itu alasan pertamaku untuk berusaha mencari-cari siapa namanya. Jantungku berdegup kencang setiap melihatnya, tak dapat berbicara banyak. Seringku memotretnya dengan diam-diam. Kalau ia sadar, aku pura-pura tak melihatnya dan mengalihkan pandanganku ke atas atau ke samping. Seolah tidak tahu apa-apa. Seperti keledai yang bermuka bodoh dan tidak sadar bahwa ia sedang di bodohi.

Kamu seperti artis idola yang sangat aku kagumi. Bedanya, mereka terang-terangan, sedangkan aku diam-diam. Tak mau kamu mengetahuinya untuk saat ini. Mungkin nanti.

 

Dalam mata kuliah ini kami sekelas. Dia selalu telat dan duduk di depan. Sering dosen bertanya kepadanya untuk menjawab pertanyaan. Kurasa, dia senior yang pintar.

“Seperti yang sudah di jelaskan sama Gilang tadi Pak, audience terdiri dari individu yang cenderung berbagi pengalaman dan di pengaruhi hubungan sosial di antara mereka” kata seniorku yang lain.

Yap, I got it. Aku yang sedang memperhatikan jawaban seniorku dengan serius berteriak dalam hati. Kalau aku mempunyai remote yang dapat sejenak menghentikan waktu, mungkin aku akan mempergunakannya dan menari-menari ala anak cheers saat waktu terhenti, karena aku, aku telah mengetahui nama kakak yang kujuluki si kakak berkemeja kotak-kotak. Gilang.

 

Di minggu berikutnya, sama seperti biasa, ia telat dan duduk di depan. Aku hanya memperhatikannya dari belakang. Hari ini adalah hari yang sangat aku tunggu-tunggu di setiap minggunya. Karena di hari ini ada semangatku yang berada di hadapanku, tanpa ia sadar bahwa ia sangat berarti bagi seseorang. Aku. Seseorang itu adalah aku.

“Ayo tugas kemarin di kumpulkan ya.” kata dosen seusai materi baru di pelajari.

Aku memperhatikan dia lagi. Kulihat yang ia pegang, tugasnya, covernya sangat mulus, di jilid rapi, dan di depannya di beri logo kampus kami yang makin terlihat tugas itu dia kerjakan dengan baik dan benar. Aku semakin yakin, bahwa ia adalah orang yang pintar. Memang, kepintaran itu tidak di lihat dari cover, atau karena di jilid. Tapi aku yakin, kalau tugas di kerjakan dengan rapi, pasti dia adalah orang yang tertib, tertib pada tugas, dan itu berarti pintar. Menurutku.

Setelah dosen berbicara untuk mengumpulkan tugas, tidak ada mahasiswa yang maju. Bukan, bukan karena tidak ada yang mengerjakkan tugas, melainkan menunggu satu orang yang duluan mengumpulkan. Aku dengan percaya diri maju ke depan untuk mengumpulkan tugas, tak lama yang lain pun mengikutiku, termasuk Gilang. Aku mengulur waktu untuk berdiri di depan meja dosen yang bertumpuk tugas semua mahasiswa, aku menunggunya, menunggu tugas Gilang berada di atas meja dosen.

“Gilang Andana Putra” tertulis nama lengkapnya di tugasnya yang rapi. Aku sempat melihatnya, memang inilah tujuanku. Mengetahui nama lengkapnya.

 

Aku sibuk dengan handphoneku. Bukan sms atau bbm-an sambil cekikikan sendiri karena seorang di sebrang sana mengundang tawaku. Tetapi, aku sibuk men-search nama lengkap yang telah kuketahui tadi siang di kampus dalam jejaring sosial. Facebook dan twitter. Banyak yang memiliki nama seperti Gilang. Tapi aku tidak menemukannya. Yang kutemui hanya orang-orang yang namanya sama seperti Gilang. Aku berusaha menulis kemungkinan-kemungkinan nama yang Gilang pakai. Tapi aku masih tidak menemukannya. Entahlah, aku sudah lelah memandangi layar di handphoneku yang sangat terang. Aku tidak menyerah, aku hanya lelah.

 

Tak terasa aku sudah harus menghadapi ujian tengah semester. Aku memang anak yang malas, tetapi aku tidak mau IPku turun semester ini, IPku di semester pertama memang tidak memuaskan, tapi aku tetap bangga, karena prinsipku lebih baik kecil tetapi naik terus di tiap semester, daripada besar tetapi harus turun di semester berikutnya. Aku sangat malas hari ini, tidak tahu apa sebabnya. Padahal hari ini hari yang biasa kutunggu-tunggu, karena aku bisa memandang Gilang sepuas hatiku, dan masih sama, tanpa ia menyadarinya. Aku melawan malasku, membaca modul mata kuliah yang akan di ujikan hari ini. Di kelas masih sepi, aku tetap membaca dan sekali-sekali ikut tertawa bergabung dengan temanku. Tak lama, dia datang. Dengan stylenya, berkemeja tangan panjang. Kali ini ia tidak memakai kemeja kotak-kotak. Aku duduk kedua dari belakangnya, tapi aku di samping. Aku masih bisa melihatnya. Aku mengeluarkan handphoneku, memotretnya untuk kedua kalinya. Aku tak perduli siapa yang melihatku, setelah kulihat hasilnya aku hanya tersenyum kecil sambil memandang layar handphoneku. Ternyata temanku memperhatikanku, saat aku melihat ke arahnya, ia tertawa. Aku pun ikut tertawa.

 

Aku tidak menyerah, aku hanya lelah. Ya, hari ini aku kembali mencari facebook dan twitternya, kali ini di komputerku. Aku mengetik kemungkinan nama yang ia pakai. Keluar satu nama. Fotonya tidak jelas. Aku belum begitu yakin bahwa itu adalah Gilang. Aku terus mengklik tiap option yang ada di facebook, melihat-lihat profilenya. Tertulis nama kampusku di situ. Aku mulai yakin. Ada nama twitternya, setelah aku lihat, bionya bertuliskan nama tim bola favoritenya. Dan setelah aku ingat-ingat ia memang pernah memakai baju bola kedua tim favoritenya itu. Sekarang, aku sangat yakin. Itu memang facebook dan twitter Gilang. Dengan segala keberanian, aku coba menyapanya di twitter. Hari ini hari yang paling menyenangkan bagiku, setelah menyapanya di twitter, walaupun aku tidak melihatnya di depanku, jantungku berdegup kencang, menunggu, menduga-duga apa balasan dari dirinya, berharap, tak menentu aku di buatnya, ketika ketiduran, handphone adalah yang pertama kucari, masih kosong, tidak ada led merah menyala, lagi-lagi aku menduga-duga, aku terus mengintip timelinenya, masih sama saat pertama aku belum menyapanya. Tak lama, led merah menyala di handphoneku, jantungku dag dig dug lagi, setelah kulihat, ia membalas sapaanku yang hanya di twitter dengan ramah, aku senyum-senyum sendiri, tertawa, lompat jingkrak-jingkrak sambil berteriak, gila aku di buatnya. 

@1 month ago

Suka baca cerita pendek? Baca karyaku yuk! "Halaman Terakhir dari Radit" Enjoy! :) 

@1 month ago